Laman

Minggu, 20 Februari 2011

KESALAHAN BERBAHASA TULISAN KE-1 BAHASA INDONESIA 2

Nama : HENI PUJIARTI
Npm : 10208585
Kelas : 3EA10
Tulisan ke-1 Softskill Bahasa Indonesia 2

KESALAHAN BERBAHASA
TULISAN KE-1 BAHASA INDONESIA 2
A. Latar Belakang Masalah
Dalam pemakaian bahasa sehari-hari sering kita tidak menyadari apakah pemakaian bahasa kita lakukan itu, apakah sudah benar atau tidak. Dalam ilmu bahasa Indonesia, bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas tentang kesalahan berbahasa. Sebelumnya akan dibahas pengertian bahasa. Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang digunakan manusia untuk bertukar informasi. Dalam bahasa yang digunakan terdapat kesalahan-kesalahan berbahasa meliputi: ketidakefektifan kalimat, kesalahan pemilihan kata.

B. Permasalahan
(1) Ketidakefektifan kalimat
(2) Kesalahan pemilihan kata

C. Pembahasan Masalah
Ketidak Efektifan kalimat adalah Kalimat yang dibuat mengandung lebih dari satu kesatuan informasi sehingga sering menimbulkan kerancuan dan ketidaktepatan arti. Adapun sebab- sebab ketidak efektifan kalimat yaitu:
1) Pleonasme adalah kalimat yang berlebihan dan tumpang tindih
contoh :
 Banyak siswa-siswa yang datang terlambat upacara sehingga mereka dihukum. (salah)
Banyak siswa yang datang terlambat upacara sehingga mereka dihukum. (benar)
 Rumah itu terbakar disebabkan karena hubungan arus listrik. (salah)
Rumah itu terbakar karena hubungan arus listrik. (benar)
 Para hadirin dimohon berdiri ! (salah)
Hadirin dimohon berdiri ! (benar)

2) Kontaminasi adalah merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
contoh:
 Orang itu sangat baik sekali (Salah)
Orang itu sangat baik (benar)
Kata sangat baik sekali salah karena menggunakan kata sangat dan kata sekali dalam satu kalimat.

3) Tidak memiliki subjek
Contoh:
 Buah jeruk mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah jeruk terkandung vitamin C. (KPS) (benar)
Di dalam buah jeruk mengandung vitamin C. (KPO) (salah)

4) Adanya kata depan yang tidak perlu
Contoh :
 Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat. (salah)
Perkembangan teknologi informasi sangat pesat. (benar)
 Kepada siswa kelas I berkumpul di aula. (salah)
Siswa kelas I berkumpul di aula.(benar)
Selain daripada bekerja, ia juga kuliah. (salah)
Selain bekerja, ia juga kuliah. (benar)

5) Salah nalar
Contoh :
 Bu, saya minta izin ke belakang. (salah) (toilet tidak selalu berada di belakang)
Bu, saya minta izin ke toilet (benar)
 Bella mengajak temannya naik ke atas. (salah) (naik selalu ke atas)
Bella mengajak temannya naik.(benar)

6) Kesalahan pembentukan kata
Contoh :
 Ia mengenyampingkan tugas kuliahnya. (salah)
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
Ia mengesampingkan tugas kuliahnya.(benar)
 Rani sedang menyetop bis sekolah. (salah)
menyetop seharusnya menstop
Rani sedang mensetop bis sekolah. (benar)

7) Pengaruh bahasa asing
 Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel)
(kata daripada dihilangkan)
Sebab-sebab perselisihan … (benar)
Saya telah katakan … (I have told)
(Ingat: pasif persona)
Telah saya katakan (benar)

8) Pengaruh bahasa daerah
- … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka)
(seharusnya sudah hadir)
- … oleh saya. (Sunda: ku abdi)
(seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)

9) Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1. Konjungsi antarklausa
a. Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b.Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2. Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3. Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.

2. Kesalahan Pemilihan Kata
Apabila terjadi kesalahan pemilihan kata maka akan terjadi pergeseran arti/ makna kalimat, tidak sebagaimana diinginkan oleh penulisnya. Bagi pembaca, kesalahan tersebut akan menimbulkan kesalahpaham atas arti/makna yang dimaksudkan penulis. Kesalahan yang dilakukan itu meliputi :
 Penggunaan kata-kata yang merupakan hasil terjemahan secara harafiah dan Kesalahan penggunaan kata terjemahan yang bersinonim, seperti kata to leave yang terjemahan bahasa Indonesianya meninggalkan dan berangkat.
 Pengunaan sinonim kata yang tidak tidak benar-benar tepat sebagaimana dituntut konteks kalimat tertentu.
 Kerancuan dalam penggunaan kata-kata yang mirip, seperti penggunaan ada dan adalah , mudah dan murah, dsb.
Pasangan kata seperti inilah yang sering dikacaukan dalam penggunaannya. Beberapa kata yang kesalahan pemakaiannya cukup sering adalah kata ada yang dikacaukan dengan kata adalah; penggunaan pronomina kita dengan kami (yang dalam bahasa Inggris ‘us’); kata berangkat dengan kata meninggalkan; kata cara dengan kata secara; kata tidak dengan kata bukan; kata ada dengan kata mempunyi. Beberapa contoh kesalahan pembelajar dalam memilih kata di paparkan di bawah ini.
Contoh kesalahan pemilihan kata:
a) Saya berbicara dengan sopir sambil naik. Dia ada sopir untuk enam tahun.
b) Situasi ini pusing untuk anak-anak dan bisa sangat mempengaruhi mereka.
c) Adalah banyak penjual dan pembeli dalam pasar.
Alternatif pembenarannya:
a) Situasi ini membingungkan anak-anak dan sangat mempengaruhi mereka.
b) Saya berbicara dengan sopir ketika sudah di dalam taksi. Dia sudah menjadi sopir selama enam tahun.
c) Ada banyak penjual dan pembeli di dalam pasar itu.


D. Simpulan
Dalam kesalahan berbahasa didapat ketidakefektifan kalimat dan kesalahan pemilihan kata. Yang telah diuraikan sebelumnya. Semua ini adalah kesalahan berbahasa yang mungkin tidak sengaja sering dilakukan. Oleh, karna itu diharapkan setelah membaca tulisan ini dapat menjadi pembaca mengerti berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

E. Daftar Pustaka
Hadi, Farid,1981. “Kesalahan Tata Bahasa.” Bahan Ceramah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Hakim, Lukman dkk. 1978. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Seri Penyuluhan 9. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembngan Bahasa.
Moeliono, Anton M. 1984. Santun Bahasa. Jakarta:Gramedia
Parera, J.D.1983. Menulis tertib dan sistematik. Cetakan 1. Airlangga.

Sabtu, 19 Februari 2011

KARANGAN ILMIAH, KARANGAN SEMI ILMIAH DAN KARANGAN NON ILMIAH

Nama : HENI PUJIARTI
Npm : 10208585
Kelas : 3EA10
Tugas : Sofsklill Bahasa Indonesia 2
Tugas Ke-2

KARANGAN ILMIAH, KARANGAN SEMI ILMIAH DAN
KARANGAN NON ILMIAH

I. Latar Belakang Masalah
Dijaman yang sudah modern ini banyak aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Salah satunya yaitu dengan menulis. Menulis bagi sebagian kalangan mahasiswa adalah suatu keharusan sebagai rutinitas sehari- hari yang sering dilakukan. Menurut sebagian orang kebebasan berekspresi dengan menulis dapat dittuangkan dengan baik, tentunya untuk hal yang lebih bermanfaat. Adapun tulisan memiliki banyak bentuk salah satunya yaitu karangan. Karangan adalah penulisan yang bersifat ilmiah, semi ilmiah dan non ilmiah. Perbedaan karangan dapatdilihat dari keknik penulisan dan ciri masing –masing karangan yang memiliki khas tersendiri, Maka dalam tulisan ini dijelaskan tentang perbedaan karangan yang dilihat dari ciri masing-masing karangan.

II. Permasalahan
Apa pengertian dari karangan ilmiah, semi ilmiah, dan non ilmiah ?
Apa ciri-ciri karangan ilmiah dan non ilmiah?

III. Pembahasan Masalah

1. Karangan Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan dengan penulisan yang baik dan benar. karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi
Ciri-ciri karangan Ilmiah :
• Menyajkan fakta objektif secara sistematis
• Penulisan cermat, tepat dan benar serta tidak membuat terkaan
• Tidak mengejar keuntungan pribadi
• Sistematis
• Tidak menonjolkan perasaan
• Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung
• Tidak Persuasif
• Tidak Argumentatif
• Tidak Melebih lebihkan sesuatu

Jenis-jenis karangan ilmiah yaitu:
• Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain.
• Tesis: karya tulis ilmiah yang menggunakan fakta objektif berdasarkan aplikasi dan sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
• Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta dengan menggunakan analisis yan terperinci.
• Makalah adalah kertas kerja yang penyampaiannya secara langsung karya dan menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif.

2. Karangan Semi Ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi Jenis karangansemi ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam opini, editorial, resensi, anekdot, hikayat, dan karakteristiknya berada diantara ilmiah.

3. Karangan Non Ilmiah (Fiksi) adalah Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Karangan non-ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis
contoh karya tulis non-ilmiah yaitu cerpen, puisi, novel, komik dll.

Ciri karangan non ilmiah:
a) Bersifat persuasif
b) Ditulis berdasarkan fakta pribadi
c) Fakta yang disimpulkan subyektif
d) Bersifat imajinatif
e) Gaya bahasa konotatif dan populer
f) Situasi didramatisir
g) tidak memuat hipotesis
h) Penyajian dibarengi dengan sejarah

IV. Simpulan
Perbedaan karangan ilmiah, non ilmiah dan semi ilmiah daat dilihat dari teknik penulisan masing-masing karangan yang memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga memudahkan kita untuk membedakannya.

V. Daftar Pustaka
Suhartono. 2005. Dasar –dasar menulis karangan.Bengkulu:Unit Penerbitan FKIP.

Slametmulyana. 1960. Kaidah Bahasa Indonesia 2. Jakarta.Jambatan.

Moeliono, Anton M. 1982.”Penataran penulisan ilmiah.” Jakarta: Universitas Indonesia.

Halim, Amran. 1983. Pembinaan bangsa Indonesia. Jakarta: Gramedia

Jumat, 18 Februari 2011

PENALARAN DEDUKTIF DAN INDUKTIF

Nama : HENI PUJIARTI
Npm : 10208585
Kelas : 3EA10
Tugas : Sofsklill Bahasa Indonesia 2
Tugas Ke-1

PENALARAN DEDUKTIF DAN INDUKTIF
I. Latar Belakang Masalah
Penelitian berasal dari hasrat keingintahuan manusia akan suatu masalah. Biasanya berupa pernyataan- pernyataan yang timbul dari permasalahan yang ingin diselesaikan, sehingga memperoleh pengetahuan baru yang dianggapnya benar. Pengetahuan baru berasal dari penalaran yang dapat diterima oleh akal sehat. Penalaran adalah satu proses berfikir manusia untuk menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan.
Data yang dapat digunakan untuk penalaran untuk mencapai satu simpulan yang berbentuk kalimat pernyataan. Data atau fakta yang dinalar itu boleh benar dan tidak benar. Disinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak data yang belum jelas kebenaranya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai simpulan. Satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan. Disini saya akan membahas dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif.

II. Permasalahan
a. Definisi penalaran deduktif ?
b. Macam – macam penarikan simpulan secara deduktif ?
c. Definisi penalaran induktif ?
d. Beberapa bentuk penalaran induktif ?

III. Pembahasan Masalah
a. Definisi Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum dari proporsisi tempat menarik simpulan itu. Proporsisi tempat menarik simpulan disebut premis.

b. Macam -macam penarikan kesimpulan secara deduktif
Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tidak langsung.
Menarik simpulan secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh :semua S adalah P (premis)
sebagian P adalah S
semua ikan berdarah dingin (premis)
sebagian yang berdarah dingin adalah ikan (simpulan)
Menarik simpulan secara tidak langsung, memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan prems yang ke dua adalah premis yang bersifat khusus.

c. Definisi Penalaran Induktif
Penalaran induktif merupakan penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain simpulan yang diperoleh tidak boleh khusus dari pada pernyataan (premis). Penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.

d. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut :
1. Generalisasi adalah proses yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapat simpulan yang bersifat umum.
Contoh :
Jika dipanaskan besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan logam memuai.
2. Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh :
Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A
Oleh sebab itu Ali dapat menjelaskan tugasnya dengan baik.
3. Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala yang saling berhubungan.
Contoh : Tombol ditekan akibatnya bel berbunyi.

IV. Simpulan
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Jika penalaran deduktif lebih menekankan pada kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Sedangkan penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif yaitu pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.

V. Daftar Pustaka
Arifin,Zaenal,E dan Tasai,Amran,S.1992.Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan tinggi. Akademika Presisindo.
Tjiptadi, Bambang.1984.Tata Bahasa Indonesia. CetakanII. Jakarta: Yudistira.
Mustakim.1991.Bahasa Indonesia. Jakarta:Pusat Bahasa

Sabtu, 04 Desember 2010

ANALISIS PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA JARYAWAN PADA PT. BALINA AGUNG PERKASA


BAB V
PENUTUP
 
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan sebelumnya dapat disampaikan beberapa kesimpulan. Adapun beberapa kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut :
  • Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja mempunyai pengaruh yang signifikan  terhadap prestasi kerja karyawan di  PT. Balina Agung Perkasa.
  • Dari  variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu  motivasi kerja ternyata mempunyai pengaruh yang  besar terhadap prestasi kerja karyawan yang artinya ada hubungan yang positif.
5.2 Saran
  •  Untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik, maka perlu menambah dan memperluas indikator masing-masing variabel yang digunakan. Indikator yang lengkap akan tercermin dalam kuisioner, sehingga akan mempermudah responden dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.
  • Selain variabel independen dalam penelitian ini, yaitu  motivasi kerja, masih banyak faktor lain yang juga mempengaruhi prestasi kerja karyawan dalam bekerja. Oleh karena itu, penulis menyarankan kepada peneliti lain yang akan meneliti permasalahan yang sama, tentang prestasi kerja karyawan agar menggunakan dan atau menambah variabel yang lain.
  • Saran untuk PT. Balina Agung Perkasa yaitu untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan harus diberikan motivasi dari perusahaan bisa berupa upah, bonus, untuk meningkatkan prestasi kerja mereka.

Kamis, 25 November 2010

ANALISIS PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PT. BALINA AGUNG PERKASA


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Korelasi
Analisis korelasi antar variabel penelitian menggambarkan nilai masing-masing variabel dilihat dari pearson correlation dengan tingkat signifikansi sebesar 0,01 yang artinya ada hubungan antar variabel.

4.2 Analisis Faktor
Dalam penelitian ini analisis faktor dipergunakan dalam situasi untuk mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel yang penting dari satu suatu set variabel yang lebih banyak jumlahnya untuk dipergunakan didalam analisis multivariate selanjutnya. Sebagai landasan untuk menganalisis digunakan KMO and Bartlett’s test suatu indeks yang digunakan untuk meneliti ketepatan analisis faktor. Dengan KMO di 0,1berarti factor analisis tepat, dan kurang dari 0,1 analisis faktor dikatakan tidak tepat. Dan Component Matrix digunakan untuk memuat semua factor loading dari semua faktor variabel pada semua factor extracted. Karena nilai KMO ≥ 0,1 untuk setiap variabel maka faktor analisis dikatakan cukup dan dapat diproses lebih lanjut.


4.3Hasil Penelitian
     Hasil Persamaan  Regresi Linear Sederhana
Dari hasil analisis regresi sederhana  pada penelitian ini diperoleh hasil persamaan regresi yang menyatakan persamaan pengaruh Motivasi Kerja  (X) terhadap Prestasi Kerja (Y) adalah sebagai berikut:

Dari hasil analisis regresi tersebut diperoleh persamaan pengaruh Motivasi Kerja (X) terhadap Prestasi Kerja  (Y) yaitu :
Y =  -93,6 + 2,7

Sehingga diperoleh T hitung sebesar 1,714 . Maka dapat diketahui bahwa  T hitung = 1,714 > T tabel = 1,638 berarti terdapat adanya pengaruh Motivasi Kerja  terhadap Prestasi Kerja  sebesar 57,76 %

4.4Koefisien Determinasi (r2)
     Koefisien determinasi dari hasil regresi sederhana menunjukkan kejelasan perubahan variabel dependen.   Maka nilai koefisien determinasi  sebesar 57,76 % . Menunjukkan bahwa Motivasi Kerja memiliki pengaruh yang  besar terhadap Prestasi Kerja. Pengaruh variabel (X) yaitu Motivasi Kerja terhadap variabel (Y) Prestasi Kerja  adalah sebesar 57,76 %. sedangkan sisanya sebesar 42,24% dipengaruhi oleh variabel lain, seperti faktor motivasi internal dan eksternal. Dari persamaan regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif motivasi kerja terhadap prestasi kerja sebesar  57,76 %.

4.5 Pembahasan Penelitian 
·         Menentukan variabel X (motivasi kerja) dan variabel Y (Prestasi kerja
·         Membuat tabel regresi sederhana

2.  Masukan ke persamaan regresi linier sederhana
Y= a + b(X)
            Y =  -93,6 + 2,7
Konstanta sebesar -93,6  menyatakan bahwa jika tidak terdapat variable motivasi kerja maka tingkat prestasi kerja karyawan yang dihasilkan sebesar 2,7. Koefisien regresi dari variabel Motivasi Kerja (X) sebesar 2,7 menyatakan bahwa setiap adanya upaya penambahan motivasi kerja, maka akan meningkatkan prestasi kerja karyawan sebesar 2,7. Tingkat signifikansi koefisien motivasi kerja (X) lebih besar dari alpha (0,1). Sehingga kesimpulan yang dapat diambil adalah adanya pengaruh motivasi kerja paling dominan  secara individual terhadap prestasi kerja karyawan di PT. Balina Agung Perkasa.
3.      Menentukan besarnya koefisien kolerasi dan koefisien determinasi


4.  Menentukan besarnya kesalahan estimasi








              
   
 




5. Pengujian Hipotesis 
 7.   Keputusan : Terima Ho tolak Ha
 8. Kesimpulan : jadi pengaruh motivasi kerja terhadap prestasi kerja karyawan memiliki pengaruh yang positif sebesar 57,76 %.





Sabtu, 20 November 2010

ANALISIS PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PT. BALINA AGUNG PERKASA

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis dan sumber data
Pada penulisan ini penulis menggunakan data primer dari hasil suvei yakni penelitian dengan mengambil contoh atau sampel dari populasi yang ada. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari studi literatur berupa tulisan laporan, pedoman, peraturan, literatur-literatur yang terkait topik penelitian dan sumber-sumber lain yang menunjang laporan penelitian.

3.2Variabel yang digunakan
a. Variabel terikat (variabel dependen) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain yang sifatnya tidak dapat berdiri sendiri. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah prestasi kerja karyawan.
b. Variabel bebas (variabel independent) yaitu motivasi karyawan. Variabel bebas (variabel independen) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain yang sifatnya berdiri sendiri. Penelitian ini memiliki variabel independent yaitu motivasi kerja.

3.3 Model Penelitian
Model Penelitian ini menggunakan Regresi Linier Sederhana
Untuk Mencari rumus a dan b dapat digunakan metode Least Square sebagai berikut :

3.4 Alat Analisis Data
Analisis regresi linear sederhana dapat digunakan untuk memperoleh persamaan hubungan antara dua variabel. Analisis untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negative.



Rabu, 17 November 2010

ANALISIS PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PT. BALINA AGUNG PERKASA

 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.TEORI DASAR
Motivasi kerja
Motivasi adalah keinginan bekerja untuk mencapai suatu tujuan, dimana keinginan tersebut dapat merangsang seseorang mau melakukan pekerjaan atau apa yang mengakibatkan timbulnya motivasi kerja. Untuk mengukur tingkat motivasi pegawai maka ada beberapa indikator yang akan diteliti yaitu sikap pegawai yang mencerminkan motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan, yang meliputi:
Adanya sikap yang mencerminkan kebutuhan pegawai akan prestasi dan adanya motivasi untuk mencapai hasil kerja yang baik.
Menunjukkan sikap tabah, jujur dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam pekerjaan mereka.
Menunjukkan sikap pantang menyerah dan ulet jika mengalami kegagalan.
                                                                                             
Motivasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dibedakan atas faktor intern dan faktor ekstern dari seseorang. Menurut Edy Sutrisno (2009:124) antara lain :
  1. Faktor internal, meliputi keinginan untuk dapat hidup, keinginan untuk dapat memiliki, keinginan untuk memperoleh penghargaan, keinginan untuk memperoleh pengakuan dan keinginan untuk berkuasa. 
  2. Faktor eksternal, meliputi kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang memadai, supervisi yang baik, adanya jaminan pekerjaan, adanya penghargaan atas prestasi, peraturan yang fleksibel, status dan tanggung jawab.

Berdasarkan uraian di atas, dapat terlihat bahwa secara garis besar faktor¬-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja sangat bervariasi. Namun secara umum faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja, yang datangnya dari dalam diri seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja yang bersumber dari lingkungan kerja perusahaan.



      Prestasi Kerja
Prestasi kerja menurut Byars dan Rue dalam tulisan Edy Sutrisno (2009) mengartikan prestasi sebagai tingkat kecakapan seseorang pada tugas-tugas yang mencakup pada pekerjaannya. Pengertian tersebut menunjukkan pada bobot kemampuan individu di dalam memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada di dalam pekerjaannya. Sedangkan prestasi kerja adalah hasil upaya seseorang yang ditentukan oleh kemampuan karakteristik pribadinya serta persepsi terhadap perannya dalam pekerjaan itu.

Menurut Steers dalam tulisan Edy Sutrisno (2009) mengemukakan, umumnya orang percaya bahwa prestasi kerja individu merupakan fungsi gabungan dari tiga faktor, yaitu :
Kemampuan, perangai dan minat seorang pekerja
Kejelasan dan penerimaan atas penjelasan peranan seorang pekerja
Tingkat motivasi kerja.

Sedangkan menurut Byars dan Rue dalam tulisan Edy Sutrisno (2009) mengemukakan ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi kerja, yaitu faktor individu dan faktor lingkungan. Faktor-faktor individu yang dimaksud adalah :
  1. Usaha (effort), yang menunjukkan sejumlah senergi fisik dan mental yang digunakan dalam menyelenggarakan gerakan tugas
  2.  Abilities, yaitu sifat-sifat personal yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas
  3.  Role atau Task Perception, yaitu segala perilaku dan aktivitas yang dirasa perlu oleh individu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Sedangkan faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi prestasi kerja adalah kondisi fisik, peralatan, waktu, materil, pendidikan, supervisi, desain organisasi, pelatihan dan keberuntungan. Faktor-faktor lingkungan ini tidak langsung menentukan prestasi kerja seseorang tetapi mempengaruhi faktor-faktor individu. Dapat dilihat bahwa perilaku seseorang dalam organisasi merupakan hasil dari interaksi berbagai variabel yaitu individual dan situasional.



2.2.Variabel
  1. Motivasi yaitu dorongan yang yang diberikan pimpinan PT. Balina Agung Perkasa mempunyai maksud untuk  meningkatkan prestasi kerja karyawan agar lebih semangat dalam berkerja.
  2. Prestasi Kerja yaitu suatu peningkatan prestasi kerja karyawan di PT. Balina Agung   Perkasa.

2.3.Peneliti sebelumnya
  • Eka (2009), Judul Pengaruh kompensasi, keahlian, dan motivasi kerja terhadap prestasi kerja karyawan. Metode penelitian yang dipakai metode survey dan kuisioner.   Variabel dependentnya(Y) prestasi kerja karyawan sedangkan variable independen(X)  kompensasi, keahlian, dan motivasi kerja.
  • Fahmi (2009)  Judul analisis pengaruh  gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap prestasi pegawai SPBU Pandanaran Semarang. Metode penelitian yang dipakai metode survey dan kuisioner. Variabel dependentnya(Y) kinerja pegawai sedangkan variable independen(X) kepemimpinan dan motivasi kerja.
  • Ika (2009)  Judul factor motivasi yang mempengaruhi kinerja karyawan pada PT. Manunggal Kresitama.  Metode penelitian yang dipakai metode survey dan kuisioner. Variabel dependentnya(Y) kinerja karyawan sedangkan variable independen(X) tanggung jawab, pengakuan, pengembangan, insentif, lingkungan kerja, keamanan dan hubungan.